Mengapa Perkawinan yang merupakan ikatan lahir dan batin seorang pria dan seorang wanita, dengan didasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa serta untuk menaati Perintah Allah dapat putus?

 

Lucia Rachmawati, SH. MH

(Team Advokat di Tigor Konsultan Hukum)

Menurut Pasal 1 Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan,

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan menurut Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam (KHI), Perkawinan menurut hukum hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Bagi pemeluk agama non islam, segala hal yang mengatur mengenai perkawinan didasarkan pada Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah RI No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sedangkan bagi pemeluk agama islam, segala hal yang mengatur mengenai perkawinan didasarkan pada Kompilasi Hukum Islam.

Perkawinan tidak selalu dapat berjalan dengan baik, apabila kedua belah pihak sudah tidak saling mendukung untuk membina bahtera rumah tangga secara bersama, maka perkawinan tersebut dapat putus.

Berdasarkan Pasal 38 Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pasal 113 Kompilasi Hukum Islam, Perkawinan dapat putus karena:

  1. Kematian,
  2. Perceraian dan
  3. Atas keputusan Pengadilan.

Menurut Pasal 19 Peraturan Pemerintah RI No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan:

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapatkan hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;
  5. Salah satu pihak mendapatkan cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri;
  6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

 

Sedangkan menurut Pasal 114 Kompilasi Hukum Islam, putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian.

Dan menurut Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam, perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan:

  1. Salah satu pihak berbuat zinda dan menjadi pemabuk, pemadat, pejudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2(dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapatkan hukuman penjara 5(lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
  5. Salah satu pihak mendapatkan cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri;
  6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
  7. Suami melanggar taklik talak;
  8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

Selengkapnya bunyi taklik talak ala fikih Indonesia adalah sebagai berikut:[1]

“Sesudah akad nikah saya (pengantin laki-laki) berjanji dengan sesungguh hati, bahwa saya akan mempergauli istri saya bernama (pengantin perempuan) dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran Islam. Kepada istri saya tersebut saya menyatakan sighat taklik sebagai berikut:

Apabila saya :

  1. Meninggalkan istri saya 2 (dua) tahun berturut-turut;
  2. Tidak memberikan nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya;
  3. Menyakiti badan/jasmani istri saya, dan
  4. Membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya 6 (enam) bulan atau lebih;

dan karena perbuatan saya tersebut istri saya tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya diterima oleh Pengadilan tersebut, kemudian istri saya membayar Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) sebagai iwadh (pengganti) kepada saya, jatuhlah talak saya satu kepadanya. Kepada Pengadilan tersebut saya memberikan kuasa untuk menerima yang iwadh tersebut dan menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional setempat untuk keperluan ibadah sosial.”

 

Sumber:

Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Peraturan Pemerintah RI No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Kompilasi Hukum Islam.

Nur Mujib, “Ketika Suami Melanggar Taklik Talak”, https://www.pa-jakartaselatan.go.id/artikel/260-ketika-suami-melanggar-taklik-talak, diakses pada 03 April 2020 jam 20.27 WIB.

 

[1] Nur Mujib, “Ketika Suami Melanggar Taklik Talak”, https://www.pa-jakartaselatan.go.id/artikel/260-ketika-suami-melanggar-taklik-talak, diakses pada 03 April 2020 jam 20.27 WIB.

Mengapa Perkawinan yang merupakan ikatan lahir dan batin seorang pria dan seorang wanita, dengan didasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa serta untuk menaati Perintah Allah dapat putus?
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *